----------------
Dikira Sudah Meninggal Dunia
Orangtua kami, ayah kami, kakek kami, Haji Aminuddin Gudang Daeng Taba, punya pengalaman luar biasa. Itu terjadi saat menunaikan ibadah haji bersama ibu / nenek kami pada tahun 1997.
Kami sekeluarga melepasnya dengan doa dan tangis. Kami berdoa semoga mereka berdua menjadi hahi mabrur dan pulang dengan selamat untuk berkumpul lagi bersama kami, anak-anak, para menantu, dan cucu-cucunya.
Tetapi saya sungguh tidak tahu mengapa menangis saat melepasnya pergi. Mungkin juga karena ada kekhawatiran tidak akan bertemu lagi.
Beberapa hari setelah tiba di Tanah Suci Mekkah, ibu kami Hajjah Hasnah menelepon bahwa tetta-sapaan akrab kami kapada ayah / kakek Aminuddin Daeng Taba-sakit dan terpaksa dirawat intensif. Kami semua menangis dan tak henti-hentinya berdoa agar beliau sembuh.
Bukannya kabar kesembuhan yang kami terima, melainkan malah sakitnya lebih keras. Sakit yang diderita tidak main-main, yaitu meningitis. Konon, ini adalah penyakit yang berasal dari Afrika. Kami semua semakin sedih.
Karena sakitnya tidak berkurang, akhirnya ayah / kakek kami dipulangkan sebelum waktunya.
Ketika itu, saya sebagai wartawan Harian Pedoman Rakyat kebetulan ditugaskan meliput pemberangkatan dan pemulangan haji pada tahun 1997 di Bandara Hasanuddin dan Asrama Haji Sudiang.
Sebelum pesawatnya datang, di Asrama Haji Sudiang, terdengar kabar bahwa ada jamaah haji yang dipulangkan karena sakit, tetapi ada juga yang mengatakan bahwa jamaah haji tersebut sudah meninggal dunia.
Dengan perasaan sedih dan harap-harap cemas, saya menunggu di bandara. Ketika jamaah haji yang sakit atau dikira sudah meninggal dunia tersebut diturunkan dari pesawat, semua orang menghindar, karena takut ketularan penyakit meningitis. Tetapi saya sebagai anak, malah mendekati jamaah haji tersebut dan bahkan langsung naik ke mobil ambulance yang membawanya ke Rumah Sakit Haji Makassar.
Beberapa dokter melarang setiap orang untuk mendekati mobil ambulance tersebut, termasuk wartawan, tetapi saya langsung naik dan mengatakan kepada mereka bahwa jamaah haji ini adalah ayah saya. Salah seorang dokter masih melarang saya, karena mengetahui bahwa saya wartawan dan mengira saya berbohong mengaku sebagai anak dari jamaah haji yang sakit tersebut.
Saat melihat saya, tetta langsung mengulurkan tangannya sambil tersenyum, mungkin ingin memeluk saya atau berharap saya menjabat tangannya lalu memeluknya, tetapi saya hanya membalas senyumnya sambil menangis tanpa membalas uluran tangannya.
Terus terang saya juga takut ketularan, apalagi isteri saya baru saja melahirkan anak kedua kami, Ahmad Ali (Amet), pada 5 Februari 1998. Kepada kakak dan saudara-saudara kami yang menunggu kabar, langsung kekabari lewat pager merek Starko bahwa tetta akan dibawa ke Rumah Sakit Haji.
Tiba di rumah sakit, ayah kami diisolasi di ruangan khusus yang terpisah dengan pasien lainnya, sehingga tidak ada orang yang berani mendekati ruangan itu, tetapi kami sekeluarga tetap menjaganya dengan setia sambil tak henti-hentinya menangis dan berdoa. Untuk menjaga segala kemungkinan, kami semua diberi obat khusus dari dokter yang sifatnya antibakteri. Dampaknya hanya satu, yaitu air kencing kami berwarna agak kerahan.
Setelah dirawat selama beberapa hari, ayah kami dipindahkan ke Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo, tetapi tidak lagi diisolasi di ruangan khusus. Ayah kami dirawat cukup lama sebelum akhirnya dibolehkan pulang ke rumah.
Mungkin karena terlalu banyak obat yang dikonsumsi, atau lebih tepatnya dipaksakan oleh dokter untuk dikonsumsi, akhirnya pendengaran ayah kami terganggu. Sampai sekarang, ayah kami masih memakai alat bantu pendengaran.
Ternyata Allah SWT mengabulkan permohonan kami. Saya sekarang sudah punya lima anak. Secara keseluruhan, ayah dan ibu kami sudah menjadi kakek dan nenek dari 21 cucu. Alhamdulillahi Rabbil Aalamin. Ya, Allah segala puji bagi-Mu. Ampunilah kami yang tidak tahu bersyukur atas segala rahmat dan nikmatmu. Ampunilah kami ya Allah....
Makassar, 17 Juli 2009
Wassalam: Asnawin

Tidak ada komentar:
Posting Komentar