
BERSAMA CUCU.
Tetta Taba bersama tiga cucunya, Fatimah (jilbab hitam, Naila, dan
Syafran. Saat jatuh sakit setelah diserang penyakit meningitis di Arab
Saudi Iketika menunaikan ibadah haji),
Tetta Taba bahkan divonis sebagai orang yang sudah mati, tetapi ibu kami
Hj. St. Hasnah Bali Daeng Bau' bersikeras bahwa suaminya
(Tetta Taba) masih hidup. (Foto: Asnawin)
----------------
Tetta Taba Paling Sedih
Kami semua sedih, tetapi kami yakini Tetta Taba-sapaan akrab kami anak-anak dan cucu-cucunya-adalah orang yang paling sedih di antara kami dengan meninggalnya ibu kami, Hj. St. Hasnah Bali Daeng Bau', Rabu dinihari, 17 Maret 2010.
Betapa tidak, ibu kami telah mendampingi beliau sebagai isteri selama lebih dari 50 tahun. Ibu kami juga telah memberikannya 12 anak. Tentu banyak suka-duka yang telah dilalui, tetapi yang paling berkesan adalah ketika Tetta Taba jatuh sakit saat melaksanakan ibadah haji belasan tahun silam.
Saat jatuh sakit setelah diserang penyakit meningitis di Arab Saudi, Tetta Taba bahkan divonis sebagai orang yang sudah mati, tetapi ibu kami almarhum Hj. St. Hasnah Bali Daeng Bau' bersikeras bahwa suaminya (Tetta Taba) masih hidup.
Ketika itu, ayah kami dipulangkan lebih awal ke Indonesia sebelum hari yang seharusnya kembali (tidak bersama jamaah haji kloternya dan praktis tidak bersama dengan ibu kami), karena penyakitnya itu.
Saya menjemput langsung ke bandara dan berhasil menyelinap masuk ke dalam ambulans yang membawanya dari Asrama Haji Sudiang Makassar ke Rumah Sakit Haji. Dokter mengatakan kemungkinannya untuk hidup sangat kecil.
Selama beberapa hari Tetta Taba dirawat di RS Haji dan kemudian dipindahkan ke RSI Faisal Makassar. Setelah itu beliau menjalani rawat jalan selama berbulan-bulan dan bahkan beberapa kali terpaksa kembali dirawat di rumah sakit.
Selama itu, ibu kami Hj. St. Hasnah Bali Daeng Bau' setia menemani Tetta Taba, termasuk memandikan dan (maaf) membersihkan pantatnya sehabis buang air besar, karena Tetta Taba kadang-kadang dalam keadaan tidak sadar ketika buang air besar atau tidak berdaya untuk membersihkan sendiri pantatnya.
Sungguh luar biasa pengabdian ibu kami terhadap suaminya.
Giliran ibu kami yang sakit, Tetta Taba juga dengan setia menemani, bahkan hingga hari terakhirnya. Ayah kami sangat terpukul dan menangis seperti anak kecil ketika ibu kami menghembuskan nafas terakhirnya di RSI Faisal.
Kami juga menyaksikan ayah kami mencium mulut ibu kami yang baru saja menghembuskan nafas terakhirnya, padahal beberapa hari sebelumnya dokter mewanti-wanti kami agar tidak mendekatkan mulut kami dengan ibu kami, karena penyakitnya sangat menular.
''Bateku' kasi' naparakai. Magi na 'alena dolo' lao (Sungguh tulus ia merawatku. Mengapa ia lebih dulu pergi),'' kata Tetta Taba dalam bahasa Bugis. Kami pun bergantian memeluknya.
Sehari setelah ibu kami dimakamkan di Pekuburan Islam Taccorong Bulukumba, saya dan beberapa saudara kembali menyaksikan Tetta Taba menangis seusai salat subuh.
''Elo'a magaiye kasi' (apa lagi yang saya mau lakukan sekarang),'' ujarnya sambil menangis.
Kami lagi-lagi memeluknya dan menangis bersama-sama.
Pada hari Sabtu, 20 Maret 2010 atau tiga hari setelah kematian ibu kami, kami berziarah ke kubur almarhumah. Kami semua menangis. Kami kembali berpelukan dan memeluk Tetta Taba yang tampak sangat sedih dan terpukul.
Pada hari Minggu, 21 Maret 2010, beberapa di antara kami berencana kembali ke Makassar setelah berkumpul di Bulukumba sejak kematian ibu kami. Tetapi sebelum kembali ke Makassar, pada pagi harinya kami berziarah ke kuburan Etta Nenek Pute'-sapaan akrab kami kepada Dekkalala Daeng Pute'-yang tidak lain ibu kandung Tetta Taba, di Bontotiro. Kuburannya tepat di belakang ''rumah'' kuburan Dato Tiro (pembawa agama Islam di Bulukumba beberapa abad silam).
Etta Nenek Pute' meninggal dunia beberapa jam setelah pesta pernikahan saya dengan Ahriyanti Hamid, pada 6 Januari 1996. Tentu saja saya sangat sedih karena saya merasa almarhum Etta Nenek Pute' sengaja menunggu usainya pesta pernikahan saya sebelum menghembuskan nafas terakhirnya. Allahu akbar.
Di Bontotiro, kami juga sempat berkunjung ke beberapa rumah dan menemui beberapa keluarga sebelum balik ke kota Bulukumba. Sore harinya, saya bersama isteri dan anak-anak pamit kepada Tetta Taba untuk kembali ke Makassar, karena anak-anak kami harus sekolah.
Saat berpamitan, saya memeluk erat Tetta Taba dan menciumi wajahnya sambil menangis. Saya minta maaf dan beliau meminta saya mendoakan ibu kami.
''Doakangi mama'nu nak (doakan ibumu nak),'' ujarnya.
Ya Allah, berikanlah ketabahan kepada kami. Berikanlah petunjuk-Mu. Terimalah ibu kami dan berikanlah ia tempat yang mulia di sisi-Mu. Maafkanlah dosa-dosanya dan masukkanlah ia ke dalam surga-Mu. Aamiinn....... (asnawin)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar