Jumat, 09 Juli 2010

Daeng Ngiji cs Sakit Mata


SAFRAN minum susu pakai botol. Sabtu pagi, 10 Juli 2010, saya mengirim sms ke hp Daeng Ngiji (Asdiana Fauziah). Isinya, apa ada agenda keluar rumah hari ini, kalau tdk ada, saya bersama Alan akan datang. Jawabnya, tidak adaji, satu rumah sakit mata. Saya balas lagi, bahwa saya juga sakit gigi. Dia juga balas dengan mengatakan; ''sempurna.'' (Foto: Asnawin)





---------------

Daeng Ngiji cs Sakit Mata



Sabtu pagi, 10 Juli 2010, saya mengirim sms ke hp Daeng Ngiji (Asdiana Fauziah). Isinya, apa ada agenda keluar rumah hari ini, kalau tdk ada, saya bersama Alan akan datang. Jawabnya, tidak adaji, satu rumah sakit mata. Saya balas lagi, bahwa saya juga sakit gigi. Dia juga balas dengan mengatakan; ''sempurna.''

Sesudah mandi pagi, saya bersama isteri (Ahriyanti Hamid), Alan (Ahmad Dahlan), dan Fatimah (Fatimah Az-Zahrah) kemudian meluncur dengan sepeda motor Tornado keluaran 1996 ke Pallangga. Tapi saya ke Tello dulu menjenguk Arul (Syahrullah Hamid, adiknya Ahriyanti Hamid) dan isterinya Ainun Mardiah.

Setelah itu, kami pamit dan kemudian menyusuri jalan Antang Raya berbelok ke Bukit Baruga, kemudian ke Perumnas Antang, keluar ke Kassi, lalu menuju Gowa. Total waktu yang kami butuhkan untuk sampai ke Pallangga sekitar dua jam, tapi tidak apa2, karena kami menikmati pemandangan yang cukup indah di perjalanan.

Sesampai di Bumi Pallangga Mas, saya bermaksud lewat di depan rumah Daeng Ngasseng dan Daeng Kinang yang kebetulan bertetangga, sebelum ke rumah Daeng Ngiji. Rupanya Daeng Kinang sedang duduk-duduk di ruang tamu yang pintunya terbuka dan di sana ada Tetta Taba (Aminuddin Gudang Daeng Taba, ayah kami).

Kami pun singgah dan ngobrol cukup lama. Kami juga makan siang bersama. Sayangnya, Muslim (suaminya daeng Kinang) sedang keluar kota. Saat beristirahat tidur-tiduran, terdengar suara tangisan Alan (Ahmad Dahlan). Setelah kami lihat, ternhyata mulut dan hidungnya berdarah. Sebuah gigi bawahnya jatuh. Kami pun memberinya perawatan seadanya.

Beberapa saat kemudian, kami pamit ke rumah Daeng Ngiji. Di sana kami disambut Daeng Ngiji yang memakai kacamata hitam. Rupanya, ia sengaja memakai kacamata hitam untuk menutupi matanya yang sakit. Safran dan Naila (dua anaknya) sedang tidur dan mereka juga sakit mata. Daeng Lili (Tasrif Akib, suaminya Daeng Ngiji) kebetulan tidak ada.

Kami berada di rumah tersebut sampai sore sebelum kembali ke rumah. Daeng Ngiji sempat mencukur habis rambut Fatimah sebelum kami pulang.

Tidak ada komentar: