Rabu, 24 Juni 2009

Yang Terakhir



PUISI ini kubuat untuk mengenang adikku almarhum Asran Faizal, yang akrab kami panggil Accang. Saya selalu menangis mengenangnya. Air mataku selalu menetes dan mengalir setiap mengingatnya, terutama saat saya melintas di tempat kami berdua makan nasi kuning untuk terakhir kalinya di tepi jalan di Jalan Boulevard, Makassar. (ist)



-----------------

Yang Terakhir


Oleh: Asnawin

Suatu hari ketika pulang kampung
Adik saya mengajak ke pasar
Dia membelikan saya sepasang sepatu
Sepatu itu lalu kupakai beraktivitas sehari-hari

Suatu hari seusai berobat
Adik saya mengajak makan siang
Kami makan nasi kuning di tepi jalan
Sambil berbincang-bincang

Suatu hari menjelang magrib
Adik saya berkunjung
Dia datang bersama seorang kawannya
Mereka berdua menginap di rumah kontrakanku

Suatu hari ibuku menelepon dan berkata
Adik saya menanyakan kabarku
Adik saya bertanya mengapa aku
Tak pernah meneleponnya

Suatu hari di bulan November
Adik saya itu meninggal dunia
Dan aku tak sempat melihat jenazahnya
Karena terlambat dalam perjalanan pulang kampung

Rupanya sepatu yang ia beli untukku
Rupanya makan nasi kuning di tepi jalan
Rupanya kedatangannya menginap di rumahku
Rupanya telepon adikku melalui ibuku

Adalah yang terakhir
Yang terakhir untukku
Kenangan terakhir
Yang terakhir...

Adikku....
Maafkan aku....
Maafkan karena tak mampu menangkap....
Isyarat darimu....

Semoga di alam sana....
Engkau tenang....
Semoga Sang Maha Pengasih....
Mengampuni dosa-dosamu....

Makassar, 24 Juni 2009

Tidak ada komentar: