
Nenek Gowa difoto pada 13 Oktober 2007. Setelah mengalami sakit berkepanjangan sekitar dua-tiga tahun terakhir,
Nenek Gowa (Jumpa' Daeng Gowa) akhirnya meninggal dunia dalam usia
sekitar 90 tahun, di Bontosunggu, Kabupaten Jeneponto, Senin, 4 Oktober
2010, sekitar pukul 15.15 Wita. (Foto: Asriadi)
--------------
Nenek Gowa Meninggal Dunia
Inna lillahi wainna ilaihi rajiun. Setelah mengalami sakit berkepanjangan sekitar dua-tiga tahun terakhir, Nenek Gowa (Jumpa' Daeng Gowa) akhirnya meninggal dunia dalam usia sekitar 90 tahun, di Bontosunggu, Kabupaten Jeneponto, Senin, 4 Oktober 2010, sekitar pukul 15.15 Wita.
Nenek Gowa atau Jumpa' Daeng Gowa adalah anak dari Maliang Daeng Talli dan Naning Karaeng Je’ne Karaeng Towaya. Jumpa Daeng Gowa memiliki tiga saudara yang semuanya sudah meninggal dunia, yakni Malakaji Daeng Bali, Halimah Daeng Pajja, dan Muhali Daeng Ngalle.
Nenek Gowa pernah menikah dan punya anak, tetapi suami dan anaknya sudah lama meninggal dunia.
Beberapa menit sebelum meninggal dunia, Daeng Memang (keluarga di Jeneponto) menelepon saya dan mengabarkan bahwa nenek Gowa sudah gawat. Saat itu saya berada di Gubernuran Makassar (rumah jabatan Gubernur Sulsel) me.
Daeng Memang bilang bahwa nenek Gowa tidak bisa lagi bicara dan tidak bisa makan minum. Saya bilang bisikkan di telinganya bacaan syahadat atau kalimat ''Lailaha illallahu'', tetapi Daeng Memang bilang nenek Gowa sudah tidak bisa mendengar. Saya bilang bacakan saja ''lailaha illallahu'', dan nanti saya yang menghubungi keluarga yang lain.
Saya segera menelepon dan mengirim sms kepada beberapa keluarga, mengabarkan bahwa nenek Gowa sudah sekarat.
Hanya sekitar lima menit kemudian, Daeng Memang kembali menelpon dan sambil menangis mengabarkan bahwa nenek Gowa sudah meninggal dunia. Saya kembali menghubungi saudara-saudara dan keluarga bahwa nenek Gowa sudah meninggal dunia.
Kamis pekan lalu, 30 September 2010, saya bersama isteri Ahriyanti, dan anak kami Fatimah Az-Zahrah Daeng Bau' (1 tahun 5 bulan), berangkat dengan naik sepeda motor dari Makassar ke Jeneponto untuk membesuk nenek Gowa.
Dari Bulukumba, juga datang tetta Aminuddin Gudang Daeng Taba, nenek Tahira, om Gau' (Safaruddin) bersama isteri dan anaknya (Andi Ummul), Eni (adik ipar saya), tante Etty, dan tante Lela (Daeng Tonji).
Kondisi kesehatan nenek Gowa memang sudah cukup parah. Lidahnya sudah memendek sehingga omongannya tidak terlalu jelas. Kedua matanya sudah tertutup rapat. Tetapi beliau tetap sadar dan bisa diajak bicara. Beliau juga masih sempat bercanda. Beliau sempat menegur dalam nada canda anak saya, Fatimah Daeng Bau', dengan ucapan ''capilana'' yang berarti ''cerewet sekali'', karena anak kami selalu mau bicara tetapi omongannya belum jelas karena usianya baru satu tahun lima bulan.
Saya ingat betul bahwa nenek Gowa sejak dulu memang selalu bercanda. Badannya cukup bagus, agak gemuk. Beliau sering berlama-lama di Bulukumba untuk menemani ibu kami (alm) St. Hasnah Daeng Bau' dan saudara perempuannya (almarhum nenek Pajja) yang tinggal di rumah kami. Di rumah kami juga selalu datang bermalam nenek Malang (ibu kandung dari ibu kami St. Hasnah Bali Daeng Bau').
Nenek Gowa selalu tersenyum dan melemparkan humor-humor segar untuk membuat kami semua tertawa. Beliau hampir tidak pernah mengeluh, apalagi terlihat susah. Ketika sudah sakit pun, nenek Gowa tetap selalu tersenyum dan bercanda.
Almarhumah juga tidak mau merepotkan kami. Beliau tidak mau meninggalkan rumahnya di Bontosunggu, Jeneponto, padahal ibu kami ketika masih hidup (ibu kami St. Hasnah Bali Daeng Bau' meninggal dunia pada 17 Maret 2010) selalu mengajaknya tinggal di Bulukumba. Akhirnya, beliau dirawat oleh keluarga yang berada di Jeneponto yang rumahnya berdampingan dengan rumah nenek Gowa.
Ya Allah, terimalah arwah nenek kami, ampunilah dosa-dosanya, dan berikanlah tempat yang layak di sisi-Mu bersama para ahli ibadah yang telah mendahului kami. Semoga kami juga dapat berkumpul bersama orang-orang beriman dan ahli ibadah di akhirat kelak. Aamiinn.... (asnawin)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar